chap.

Kamis, 10 Maret 2011

The Last Key-Hold (judul sementara)

10 Maret 2011

Namaku Key Cheshira. Empat hari lagi aku berumur 14. Bukan nya sesuatu yang istimewa akan terjadi di umur yang tidak luar biasa seperti ini tapi.. Awalnya aku tidak membayangkan apa-apa untuk terjadi...

Hari ini aku pergi ke sekolah seperti biasa, tidak ada hal-hal aneh yang seharusnya terjadi pada anak kelas 2 SMP yang akan berumur 14 empat hari lagi. Tapi jika harus kusebutkan hal aneh yang terjadi pagi tadi –baiklah. Sewaktu aku bangun tidur pagi tadi, ada kucing hitam dengan kalung dan mata berwarna merah di jendela kamarku aku tidak melihatnya begitu jelas- tapi aku yakin melihat pantulan cahaya merah di matanya. Aku memang menyukai binatang tapi rasanya aneh jika melihat sesosok kucing dengan warna mata merah dan bulu hitam kelam berada di jendela kamarku yang berada di lantai dua --walaupun itu bukanlah hal yang aneh bagi seekor kucing untuk dilakukan--. Sekarang masih terlalu cepat 4 jam sebelum bel masuk berbunyi karena sekarang aku sedang menjalani ulangan tengah semester jadi bel masuk berbunyi pukul 11.20. Sebelum sampai ke sekolah aku melewati taman yang cukup luas, -dengan pepohonan yang cukup tinggi tampak sedikit seperti hutan-. Aku menikmati nya- saat melewati taman ini karena mengingatkanku pada kesan spiritual yang ada pada film-film atau buku-buku fantasi yang sering kubaca. Tapi ada sesuatu yang aneh pada lubang di perut pohon yang biasa kupanjat. Ada sesuatu yang mengilap disana dan—terasa aneh sesaat aku menyentuhnya -Aku mengambilnya, mengeluarkannya dari lubang pohon itu- ‘itu’ seperti bola(?) seperti telur lebih tepatnya. Warnanya kebiruan, bening dan mengkilap saat terkena cahaya matahari, tapi terlihat seperti sudah berlumut. Seakan sudah lama berada disana- padahal selama ini aku selalu melewati pohon besar itu tidak pernah benda yang mencolok itu mencuri pandanganku. Aku memasukannya ke dalam tasku --yang selalu di sebut ‘tas-besi’ oleh teman-temanku karena tasku selalu berat walaupun aku hanya membawa dua atau tiga buku dalam sehari--.

Aku sampai di sekolah. Seperti biasa setelah melewati gerbang sekolah yang masih sepi aku berbelok ke kiri terlebih dahulu –itu tempat dimana aku dan teman-temanku biasa berkumpul sepulang sekolah-- karena waktuku masih 3 jam lagi sebelum kelas dimulai. Aku membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan itu –kami menyebutnya sanggar-. Ya benar aku dan teman-temanku yang biasa berkumpul disini adalah anggota sebuah organisasi dunia, Gerakan Pramuka. Dan aku bangga menjadi salah satu dari itu, Pramuka banyak memberikan pengetahuan dan hal-hal baru yang cukup menarik untuk di pelajari oleh orang yang mudah bosan sepertiku. Aku langsung duduk di sudut tempat duduk ruangan dekat komputer. Tanpa membuang waktu aku membuka tasku, mengambil benda yang tadi kutemukan di pohon taman. Warnanya terlihat sedikit gelap tanpa sinar matahari terpantul di permukaannya –tapi tetap jernih-. Aku mencoba mendengarkan apakah ada sesuatu didalamnya. Tidak terdengar apa-apa. Permukaannya terasa tebal dan licin, aku mencoba membersihkan lumut-lumut dan kotoran yang menutupi permukaannya. Sekarang benda itu semakin terlihat lebih mirip dengan telur dari pada bola. Aku mencoba mengocoknya, tiba-tiba terdengar geraman kecil dari pintu. Aku menoleh dengan kaget dan hampir menjatuhkan benda yang mirip sebuah telur itu. Aku melihatnya.
Aku melihatnya. Mata merah darah yang mengkilap, bulu hitam kelam sehitam jurang yang tak berdasar itu mengagetkanku –itu yang kurasa- atau mungkin lebih pada perasaan bergidik yang seperti menyerang tubuh dan pikiranku dengan tiba-tiba saat aku melihat –mungkin bisa dibilang-‘kucing’ itu. “kau kira itu apa..” suara itu terdengar rendah di telingaku, datar tidak seperti nada bertanya yang seharusnya digunakan untuk kalimat seperti itu. “a-apa?” aku mencari asal suara itu. “disini, payah..” nadanya melecehkan. Aku menengadah sekali lagi ke arah kucing hitam tadi, dan tidak ada siapa-siapa, tidak ada apa-apa selain kucing ‘itu’ di dekat pintu. “d-dari mana...?” aku memastikan, tanpa berkedip sekalipun aku memperhatikan kucing itu. Kucing itu menatapku dalam-dalam –sesaat aku seperti ingin memalingkan tatapanku tapi.. tidak kulakukan- “apalagi yang kau harapkan? Seorang pangeran tampan?” aku terdiam. Aku tidak berteriak, tidak berlari, ataupun menutup mata. Aku -anehnya- tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan orang lain jika mengalami kejadian mustahil seperti ini. Ya, dia- ‘kucing’ itu mengeluarkan suara-- bukan me-ngeong tapi bahasa manusia –yang bisaku mengerti-. --Jantungku terasa ingin melompat keluar dari mulutku-- Aku hampir berpikir bahwa aku masih tertidur di kasurku dan bermimpi, bermimpi mengenai kucing yang ‘berbicara’. Tapi kenyataannya bukan itu yang terjadi- biasanya aku akan langsung terbangun jika memang benar hal itu adalah mimpi. Ini adalah hal yang biasa terjadi di film-film dan buku-buku fantasi yang pernah kubaca dan aku sering membayangkan bagaimana jika peristiwa-peristiwa di film-film dan buku-buku itu benar-benar terjadi padaku. “Wah..Waw..” hanya itu yang bisa kupikirkan sekarang. Dia- ‘kucing’ itu menengadah ke arahku seperti ingin memastikan sesuatu dariku. Tiba-tiba aku teringat—benda seperti ‘telur’ di tanganku- aku memegangnya dengan kuat, tanganku berkeringat. Suara--kata-kata ‘kucing’ itu teringat di kepalaku --“kau kira itu apa”--. Aku ingin menjawabnya tetapi tak tahu harus memulai darimana perasaanku begitu meluap-luap sekarang, jantungku berdetak begitu kencang. Dia mendesah dan memulainya lagi, “kau kira itu apa? Ya benar aku kucing, K U C I N G-” dia bahkan mengejanya “-yang berbicara. Puas?”. Dia benar-benar terlihat –atau lebih tepatnya terdengar- muak menunggu jawaban dariku. Dan aku tidak menginginkan itu, “t-telur...?” aku berusaha menenangkan pikiranku. “Yah, hampir seperti itu.. tapi bukan.” Itu kata terakhir darinya sebelum akhirnya kedua orang teman laki-lakiku datang.


00.23 PM 11 Maret 2011